Awug
Di
Bandung, keberadaan awug dapat dijumpai di sejumlah sudut kota dan
disajikan dengan harga beragam. Rupanya, cita rasa awug bukan hanya
lahir dari bahan dan cara pengolahannya, tapi juga cara
menghidangkannya.
Awug adalah satu dari sekian banyak penganan khas masyarakat Sunda atau Jawa Barat. Diolah dari tepung beras (paré) yang dicampur dengan air, garam, gula merah dan kelapa parut serta dimasak dengan cara dikukus.
Akan tetapi, dikukus dengan perabot dapur beranyam bambu bernama aseupan,
awug menjadi makanan khas. Selain bentuknya serupa kerucut, juga telah
menjadi tradisi turun-temurun. Berbeda jika dikukus seperti biasa dengan
perabot yang lebih modern. Lain pula aroma dan auranya. 
Adonan
awug lazimnya dibuat berlapis. Lapisan ini terbentuk dari dua warna.
Warna putih dari tepung beras dan warna merah kecokelatan berasal dari
gula merah (aren).
“Kuncinya terletak pada resep dan bahan dasar yang berkualitas. Dikukus dengan aseupan,
aroma awug akan lebih wangi,” terang Ade dari Awug Beras Cibeunying,
Kota Bandung. Menurutnya pula, awug yang sudah matang atau saat masih
panas baiknya disajikan pada piring dengan dialasi daun pisang terlebih
dahulu. Apa sebab? Katanya, daun ini pun akan memunculkan harum yang
menggugah selera, tak hanya dari daun pandan.
Di
kiosnya yang terletak di bilangan Jalan Jenderal Ahmad Yani, awug yang
dijajakan selalu dikukus secara dadakan. Bahkan, pembeli dapat melihat
langsung bagaimana lapisan awug itu dibuat. Juga saat awug dalam aseupan dimatangkan pada sééng sekira 10 menit.
Dengan
merogoh kocek Rp 6.000, di tempat niaganya yang sudah berdiri sejak
1980 itu, satu dus awug beras asli dapat dibawa pulang. Untuk isi yang
lebih banyak, sedia juga kemasan dalam pipiti ataupun nyiru.
Dengan
bahan-bahan alami, awug dapat bertahan cukup lama. Maka tak jarang,
awug dijadikan satu opsi sebagai buah tangan bagi pelancong yang datang
dari luar kota. Seperti nasi, awug pun dapat dihangatkan beberapa saat.
Akan tetapi yang perlu diingat, kata Ade, kelapa parut dicampur saat
awug akan segera disantap.
Meski
berbahan dasar padi, awug digolongkan pada makanan ringan. Dijadikan
menu pilihan untuk melengkapi jamuan pesta, tak jadi soal. Malah, di
hotel berbintang pun acap disajikan dalam suatu acara formal semisal meeting.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar